Thursday, December 24, 2015

Sanggar Bahana Antasari dalam Pementasan Mamanda (Seni Teater Tradisi Kalsel)

Tahun ini merupakan tahun yang sangat menakjubkan untuk dunia seni peranku, bisa bermain kembali di atas panggung perak sebanyak tiga kali tahun ini. Aku begitu merindukan panggung perak, tidak hanyadi belakang panggung sebagai crew namun menjadi seorang tokoh di atas panggung, yang ku rindukan tak hanya panggung perak saja, namun prosesnya. Karena kami seniman muda selalu diingatkan untuk menikmati, mencintai, menjalani proses penggarapan dengan sungguh-sungguh, apalah artinya sebuah pertunjukkan 1-2 jam tanpa proses penggarapan berjam-jam setiap harinya, setiap minggu, selama beberapa bulan. Proses inilah yang selalu aku nikmati, diriku sendiri, sebagai seorang aktris panggung perak (akupun malu sebenarnya menyebut diriku sebagai aktris teater).

Tepatnya awal Maret 2015 ini Sanggar Bahana Antasari, rumah berkesenianku mengadakan pementasan teater tradisi Banjar, kalsel, Mamanda, untuk pelantikan ketua umum sanggar yang baru, dalam penggarapan ini ada begitu banyak senior yang dilibatkan sebagai aktor dan aktris, baik yang sudah lulus (menikah dan bekerja) maupun anggota aktifnya, sedangkan anggota mudanya sebagai crew dan pemain musik.

Mamanda adalah seni teater atau pementasan tradisional yang berasal dari Kalimantan Selatan. Dibanding dengan seni pementasan yang lain, Mamanda lebih mirip denganLenong dari segi hubungan yang terjalin antara pemain dengan penonton. Interaksi ini membuat penonton menjadi aktif menyampaikan komentar-komentar lucu yang disinyalir dapat membuat suasana jadi lebih hidup.
Dialog Mamanda lebih kepada improvisasi pemainnya. Sehingga spontanitas yang terjadi lebih segar tanpa ada naskah yang mengikat. Namun, alur cerita Mamanda masih tetap dikedepankan. Disini Mamanda dapat dimainkan dengan naskah yang utuh atau inti ceritanya saja.
Pertunjukkan Mamanda mempunyai nilai budaya, disamping merupakan sebagai media hiburan juga berfungsi sebagai media pendidikan bagi masyarakat Banjar. Cerita yang disajikan baik tentang sejarah kehidupan, contoh toladan yang baik, kritik sosial atau sindiran yang bersifat membangun, demokratis, dan nilai-nilai budaya masyarakat Banjar.Selengkapnya tentang Mamanda bisa dilihat di sini Mamanda 

Naskah teater tradisi Mamanda yang kami pentaskan berjudul "Putra Mahkota Bahana Ulam Sari" karya senior sanggar kami sendiri, Abang A. Yudhi Galih, beliau memang salah satu senior kami yang sangat mencintai dan banyak menghasilkan karya di bidang seni teater tradisi (juga modern). Ceritanya tak lepas dari kerajaan, jalannya persidangan, laporan para menteri tentang keadaan rakyat, permasalahan seputar putri raja yang akan dinikahkanP agar suaminya dijadikan penerus raja, dan perampokan harta kekayaan raja oleh sekawanan perampok. Kawanan perampok ini pun sebenarnya tidak sembarang merampok, mereka merampok orang-orang yang terlibat korupsi dan membagikan hartanya kepada rakyat, para perampok ini berniat menculik putri-putri raja dengan menggunakan jin (mistisnya teater tradisi Mamanda memang cukup kental), setelah penculikan, kerajaan pun geger dan menyuruh panglima perang dan pasukannya untuk menangkap para perampok. Para perampok yang ditangkap akan dihukum mati, namun saat inilah terungkap bahwa ketua perampok bercadar hitam adalah istri pertama raja yang terpisah karena perang kerajaan dulunya, akhirnya anak laki-laki dari istri pertama inilah yang naik menjadi raja berikutnya.

Aku mendapatkan peran sebagai Permaisuri pertama kerajaan, dimana tokohku disini memiliki satu anak perempuan, dan selalu bertengkar dengan istri raja yang kedua, istri kedua raja adalah sepupuku sendiri. Untuk peranku kali ini, aku harus belajar "logat" banjar banget dengan aksen jaman dulunya, yang biasanya aku memerankan tokoh anak SMA dan semacamnya kini aku harus menjadi seorang ibu, harus make heels juga selama kurang lebih dua jam (tapi kalo udah balik ke belakang panggung jeda antar babak langsung nyeker haha), dalam peranku sebagai Permaisuri Galuh Larasati Intan Candra Kirana (kalo gak salah Candra Kirana, karena jujur aja, dengan nama sepanjang itu, aku udah lupa haha) ini aku harus lepas jilbab, cuma make selendang aja nutupin kepala, karena memang pada jaman dulu itu para istri raja gak pake jilbab, untuk benar-benar mendalami tokohku, aku gak masalah sih, bagiku yang memang selalu ingin profesional dalam penggarapan.

Alhamdulillah pementasan kami ditonton tidak kurang dari 300 orang penonton yang memenuhi Auditorium IAIN Antasari malam itu, beberapa seniman ternama di Kalsel yang kami undang juga turut berhadir, dan setelah itu selama beberapa hari pementasan kami menghiasi halaman koran-koran lokal Banjarmasin, hehe. Bagiku sendiri, memainkan naskah teater tradisi itu cukup susah karena ada banyak pakem-pakemnya, tidak seperti teater modern, tapi disitulah tantangannya, hehe. Sebagai seorang penggiat seni bagiku melestarikan dan memainkan teater tradisi itu harus banget, karena siapa lagi yang meneruskan kalau bukan kita, aku bangga sekali bisa mempelajari dan mengetahui budaya lokal seperti Mamanda, apalagi aku berasal dari daerah lain. Kalau kata salah satu senior dari sanggar lain, Abang Wanyi Kampoeng, yang memang terkenal kecintaannya terhadap kesenian lokal, "seni tradisi itu bagai candu yang dihalalkan", and I couldn't agree more!

Video pementasan Teater Tradisi Mamanda dengan judul "Putra Mahkota Bahana Ulam Sari" ini aku upload ke youtube pribadiku dan bisa ditonton di link berikut ini.

Poster pementasan kami
Beberapa jam sebelum pementasan
Panggung Pementasan
Para pemusik
Backstage!
Koran-koran yang memuat berita pementasan kami

instagram ♥ | twitter ♥ | youtube ♥ | ask.fm ♥| lookbook.nu ♥ | tumblr ♥ | daily blog ♥ |  Bloglovin  ♥

9 sweet words:

  1. Aktris cantik ;)

    good luck for your acting carreer yu!
    So proud

    ReplyDelete
    Replies
    1. Your expression is soooooo on point!

      Kayaknya galak ya hehehehehhe

      Delete
    2. yeaay terima kasih Aul, hahaha aku disini malah "lemah" banget karakternya.

      Delete

  2. you look amazing !
    would you like to follow each other on GFC & G+? If you follow me,
    I will follow you back after it.
    www.tomntins.com

    ReplyDelete
  3. nice review
    thanks for sharing

    www.callmeponyboy.blogspot.com

    ReplyDelete
  4. oh congratz for the successful show!
    love the colorful costumes :)

    <3
    http://escapesweetest.com

    ReplyDelete

drop your comments here. it would be perfect with your comments ~
I may not reply it all :( but I'll try reply it asap.. ♥ twitter | instagram | bloglovin♥

About Me

My photo
Living as the only one daughter in her family for 22 years. "Daddy" adorer. It's about her retro and girly with a bit boyish taste! Shown her biggest love to wear skirt, boots. People call her Adeayu or Ayu / Deay. She comes into the world on 17th August 1993. Yes! On Indonesia Independent Day. Known as "Ncus" of Bahana Art Group and part of 09 Theater Art Group. Sleeping wherever she is.. Wears Hijab and PROUD with it. Fashion quote : "fashion? Is not just about expensive clothes or branded things. It's about your sense, how you wear it, mix-match it, and show it off" fashion to her : depend on her mood, colorful, brown-ish, modern-retro, stunning, and FUN!

Followers

Follow by Email